Beranda / Blog / Mengenal Standar SNI dan ASTM untuk Pengujian Kuat Tekan Beton

Mengenal Standar SNI dan ASTM untuk Pengujian Kuat Tekan Beton

Mengenal Standar SNI dan ASTM untuk Pengujian Kuat Tekan Beton

SNI dan ASTM merupakan dua acuan penting dalam pengujian kuat tekan beton, terutama untuk pengujian menggunakan benda uji berbentuk silinder. Di Indonesia, SNI 1974:2023 menjadi standar yang mengadopsi secara identik ASTM C39/C39M-20 untuk metode uji kekuatan tekan spesimen beton silinder.

Standar ini menentukan bagaimana spesimen diberi beban tekan, bagaimana beban maksimum dicatat, serta bagaimana kuat tekan beton ditentukan dari hasil pengujian.

Bagi laboratorium beton, kontraktor, konsultan, maupun pelaksana pengendalian mutu, pemahaman terhadap standar pengujian sangat penting. Mesin uji tekan yang memiliki kapasitas besar saja belum cukup. Prosedur pengujian, kondisi benda uji, pembebanan, peralatan, dan pencatatan hasil harus mengikuti metode yang menjadi acuan.

Apa Itu Standar SNI dan ASTM pada Pengujian Kuat Tekan Beton?

SNI (Standar Nasional Indonesia) merupakan standar yang berlaku di Indonesia dan ditetapkan oleh Badan Standardisasi Nasional (BSN). Sementara ASTM (ASTM International) menerbitkan standar teknis yang digunakan secara luas untuk berbagai material, produk, metode pengujian, dan kegiatan teknis.

Dalam pengujian kuat tekan beton silinder, standar yang perlu diperhatikan adalah:

StandarJudulKeterangan
SNI 1974:2023Metode uji untuk kekuatan tekan spesimen beton silinderAdopsi identik ASTM C39/C39M-20
ASTM C39/C39M-20Standard Test Method for Compressive Strength of Cylindrical Concrete SpecimensAcuan ASTM yang diadopsi ke SNI 1974:2023
SNI 1974:2011Cara uji kuat tekan beton dengan benda uji silinder yang dicetakSNI yang masih tercatat berstatus berlaku dalam katalog BSN

BSN mencatat SNI 1974:2023 sebagai standar yang berlaku dengan judul Metode uji untuk kekuatan tekan spesimen beton silinder (ASTM C39-20, IDT). BSN juga masih mencatat SNI 1974:2011 sebagai standar berstatus berlaku.

Untuk pekerjaan yang menetapkan SNI 1974:2023, metode pengujian harus mengikuti standar tersebut dan hubungan acuannya dengan ASTM C39/C39M-20 perlu dipahami dengan jelas.

SNI 1974:2023 Mengadopsi ASTM C39/C39M-20

Salah satu hal terpenting dalam memahami standar terbaru adalah hubungan antara SNI 1974:2023 dan ASTM.

SNI 1974:2023 merupakan adopsi identik (IDT) dari ASTM C39/C39M-20. Artinya, standar Indonesia tersebut mengambil metode ASTM C39/C39M-20 sebagai dasar dengan penyesuaian editorial untuk kebutuhan SNI.

ASTM C39/C39M sendiri berjudul Standard Test Method for Compressive Strength of Cylindrical Concrete Specimens dan mencakup penentuan kuat tekan benda uji beton berbentuk silinder, termasuk silinder yang dicetak dan inti beton hasil pengeboran.

Hubungan ini membuat istilah SNI 1974:2023 dan ASTM C39/C39M-20 sangat erat dalam pembahasan pengujian kuat tekan beton silinder.

Apa yang Diuji dalam Pengujian Kuat Tekan Beton?

Pengujian kuat tekan menentukan kemampuan benda uji beton menerima beban tekan aksial hingga mengalami keruntuhan.

Hasil pengujian dinyatakan sebagai kuat tekan, umumnya dalam MPa atau N/mm².

Secara matematis, kuat tekan dihitung menggunakan hubungan:

f’c = P / A

Keterangan:

  • f’c = kuat tekan beton
  • P = beban maksimum yang diterima benda uji
  • A = luas penampang benda uji

Prinsip perhitungannya sederhana. Beban maksimum yang diterima spesimen dibagi dengan luas penampang yang menerima beban.

Namun, kualitas hasil tidak ditentukan oleh perhitungan tersebut saja. Kondisi spesimen, dimensi, proses pembuatan dan perawatan, umur beton, serta prosedur pengujian ikut memengaruhi hasil.

SNI 1974:2011 secara eksplisit menjelaskan bahwa hasil kuat tekan dipengaruhi oleh ukuran dan bentuk benda uji, proses pencampuran, pengambilan contoh, pencetakan, umur, temperatur, serta kondisi kelembapan selama perawatan. ASTM C39/C39M juga memberikan perhatian terhadap faktor-faktor tersebut.

Benda Uji yang Digunakan

SNI 1974:2023 mengatur pengujian kekuatan tekan spesimen beton berbentuk silinder. ASTM C39/C39M juga mencakup benda uji silinder yang dicetak maupun inti beton hasil pengeboran.

Karena bentuk benda uji memengaruhi hasil pengujian, dimensi spesimen harus diperhatikan sebelum pengujian.

Hal yang perlu diperiksa antara lain:

  • Diameter benda uji
  • Panjang benda uji
  • Kondisi permukaan bidang tekan
  • Kesesuaian benda uji dengan metode pengujian
  • Umur benda uji
  • Kondisi perawatan sebelum pengujian

Untuk laboratorium, persiapan spesimen tidak dapat dipisahkan dari kualitas hasil uji. SNI 1974:2023 juga memiliki acuan terkait pembuatan dan perawatan benda uji serta persiapan permukaan spesimen.

Mesin yang Digunakan untuk Pengujian Kuat Tekan Beton

Pengujian membutuhkan mesin uji tekan beton atau compression testing machine yang mampu memberikan beban aksial kepada benda uji.

Mesin harus memiliki kapasitas yang sesuai dengan beban pengujian dan mampu menerapkan pembebanan berdasarkan persyaratan metode yang digunakan.

Pada pengadaan mesin uji tekan beton, beberapa parameter yang perlu diperiksa meliputi:

  • Kapasitas maksimum
  • Rentang pembebanan
  • Sistem pembebanan
  • Sistem pembacaan beban
  • Ukuran ruang pengujian
  • Ukuran pelat atau platen
  • Kemampuan pengaturan laju pembebanan
  • Sistem keselamatan
  • Sertifikat atau dokumentasi kalibrasi

Kapasitas mesin bukan satu-satunya parameter dalam memilih compression testing machine. Mesin harus sesuai dengan spesimen, rentang beban, metode pengujian, dan kebutuhan laboratorium.

SNI 1974:2011 mensyaratkan mesin penguji memiliki kapasitas yang cukup dan mampu memberikan kecepatan beban sesuai ketentuan metode.

Cek spesifikasi Compression Testing Machine dari Indra Jaya Tektona.

Kecepatan Pembebanan Harus Dikendalikan

Salah satu bagian penting dalam pengujian kuat tekan adalah laju pembebanan.

SNI 1974:2011 menetapkan laju pembebanan untuk mesin yang digerakkan secara hidrolis pada rentang 0,15 MPa/detik sampai 0,35 MPa/detik. Setelah pembebanan dimulai, pengaturan laju tersebut harus dikendalikan sesuai ketentuan metode sampai mendekati kondisi keruntuhan.

Hal ini menunjukkan bahwa operator tidak boleh memberikan beban secara sembarangan.

Jika mesin hanya mampu memberikan beban tanpa kontrol laju pembebanan yang sesuai, hasil pengujian dapat keluar dari prosedur standar yang digunakan.

Karena itu, kemampuan mesin dalam mengontrol pembebanan menjadi bagian penting ketika laboratorium memilih mesin uji kuat tekan beton.

Mengapa Permukaan Benda Uji Harus Dipersiapkan?

Beban dari mesin harus diteruskan ke benda uji melalui permukaan tekan. Permukaan yang tidak sesuai dapat menyebabkan distribusi beban menjadi tidak seragam.

SNI 1974:2023 mengacu pada prosedur terkait persiapan permukaan spesimen, termasuk ASTM C617/C617M untuk capping dan ASTM C1231/C1231M untuk penggunaan unbonded caps.

Artinya, pengujian kuat tekan tidak berhenti pada menempatkan silinder beton di antara dua pelat mesin.

Kondisi bidang tekan harus dipersiapkan agar pembebanan bekerja sesuai metode yang ditetapkan.

Bagaimana Hasil Kuat Tekan Beton Diperoleh?

Setelah benda uji ditempatkan pada mesin, beban tekan diberikan secara terkendali hingga spesimen mengalami keruntuhan.

Operator kemudian mencatat beban maksimum yang diterima benda uji.

Nilai kuat tekan dihitung dari:

Kuat tekan = beban maksimum / luas penampang

Contoh sederhana:

Sebuah benda uji memiliki luas penampang 7.850 mm² dan menerima beban maksimum 785 kN.

Maka:

f’c = 785.000 N / 7.850 mm²

f’c = 100 N/mm² = 100 MPa

Angka tersebut merupakan contoh perhitungan matematis. Evaluasi hasil pengujian yang sebenarnya harus mengikuti dimensi spesimen, prosedur, faktor koreksi, umur, dan ketentuan standar yang digunakan.

Bentuk Kehancuran Benda Uji Juga Diperhatikan

Pengujian tidak hanya menghasilkan angka kuat tekan.

Bentuk keruntuhan benda uji juga perlu diamati dan dicatat. SNI 1974:2011, misalnya, memuat klasifikasi bentuk kehancuran seperti kerucut, kerucut dan belah, kerucut dan geser, geser, serta bentuk kolumnar.

ASTM C39/C39M juga memberikan perhatian terhadap pola fraktur dan kondisi spesimen setelah pengujian.

Pencatatan ini membantu laboratorium mengevaluasi apakah pola kehancuran sesuai dengan kondisi yang diharapkan atau terdapat kondisi pada benda uji yang perlu diperiksa.

Apa Perbedaan SNI 1974:2011 dan SNI 1974:2023?

Perbedaan paling penting terletak pada dasar standar yang digunakan.

SNI 1974:2011 merupakan standar yang mengatur cara uji kuat tekan beton dengan benda uji silinder dan sebelumnya mengadopsi modifikasi dari AASHTO T 22-03 (ASTM C39-99).

Sementara itu, SNI 1974:2023 merupakan revisi SNI 1974:2011 dan mengadopsi secara identik ASTM C39/C39M-20.

Perbandingan sederhananya:

AspekSNI 1974:2011SNI 1974:2023
Tahun20112023
FokusKuat tekan beton silinderKekuatan tekan spesimen beton silinder
Dasar adopsiAASHTO T 22-03 / ASTM C39-99 dengan modifikasiASTM C39/C39M-20
Status di katalog BSNBerlakuBerlaku
Hubungan dengan ASTMBerbasis edisi ASTM lamaAdopsi identik ASTM C39/C39M-20

Katalog resmi BSN saat ini mencantumkan kedua standar tersebut sebagai berstatus berlaku. Karena itu, dalam pekerjaan konstruksi atau laboratorium, acuan yang digunakan harus mengikuti dokumen teknis, spesifikasi pekerjaan, persyaratan kontrak, dan standar yang ditetapkan untuk pekerjaan tersebut.

ASTM C39/C39M-20 dan ASTM C39/C39M-26

ASTM juga terus memperbarui standar.

ASTM saat ini mencantumkan ASTM C39/C39M-26 sebagai edisi aktif untuk Standard Test Method for Compressive Strength of Cylindrical Concrete Specimens.

Hal ini penting ketika laboratorium atau proyek secara spesifik mensyaratkan edisi ASTM tertentu.

Jangan menulis hanya:

“Pengujian mengikuti ASTM C39.”

Jika dokumen proyek menetapkan edisi tertentu, edisi standar harus diperiksa.

Untuk SNI 1974:2023, dasar adopsinya adalah ASTM C39/C39M-20, bukan edisi ASTM yang lebih baru.

Standar Pendukung dalam Pengujian Kuat Tekan Beton

Pengujian kuat tekan merupakan satu rangkaian pekerjaan. SNI 1974:2023 mencantumkan sejumlah standar ASTM yang berkaitan dengan persiapan dan pengujian spesimen.

Beberapa di antaranya:

  • ASTM C31/C31M untuk pembuatan dan perawatan benda uji beton di lapangan
  • ASTM C42/C42M untuk pengambilan dan pengujian inti beton
  • ASTM C192/C192M untuk pembuatan dan perawatan benda uji beton di laboratorium
  • ASTM C617/C617M untuk capping benda uji silinder
  • ASTM C1231/C1231M untuk unbonded caps
  • ASTM C1077 terkait lembaga pengujian beton dan agregat untuk konstruksi

Ini menunjukkan bahwa kualitas hasil uji tidak berdiri pada mesin tekan saja.

Spesimen, proses pembuatan, perawatan, persiapan permukaan, mesin, pembebanan, operator, dan pencatatan hasil merupakan bagian dari sistem pengujian.

Mengapa Standar Penting dalam Pengujian Kuat Tekan Beton?

Standar memberikan metode yang seragam sehingga hasil pengujian dapat digunakan untuk tujuan pengendalian mutu dan evaluasi kesesuaian terhadap spesifikasi.

ASTM C39 menjelaskan penggunaan hasil pengujian sebagai dasar untuk quality control terhadap proporsi campuran, pencampuran, dan penempatan beton serta untuk menentukan kesesuaian terhadap spesifikasi.

SNI 1974:2011 juga menyebut penggunaan hasil pengujian untuk pengendalian mutu komposisi campuran, proses pencampuran dan pengecoran, penentuan kesesuaian pekerjaan terhadap spesifikasi, serta evaluasi efektivitas bahan tambah.

Karena itu, hasil uji kuat tekan harus diperlakukan sebagai data pengendalian mutu, bukan sekadar angka yang dicantumkan dalam laporan.

Hal yang Harus Diperhatikan Laboratorium

Laboratorium yang melakukan pengujian kuat tekan beton perlu memperhatikan beberapa hal utama:

1. Gunakan standar yang tepat

Pastikan dokumen pengujian menyebut standar dan edisi yang digunakan.

2. Pastikan mesin memiliki kapasitas yang sesuai

Kapasitas mesin harus mencukupi rentang beban pengujian.

3. Perhatikan kalibrasi

Mesin uji harus berada dalam kondisi pengukuran yang dapat dipertanggungjawabkan. SNI 1974:2011 memberikan ketentuan kalibrasi mesin, termasuk interval paling sedikit setiap 12 bulan serta kondisi lain seperti pemasangan awal, relokasi, perbaikan yang memengaruhi sistem, atau ketika terdapat keraguan terhadap ketepatan hasil.

4. Persiapkan benda uji dengan benar

Dimensi, umur, kondisi curing, dan permukaan tekan harus sesuai dengan metode yang digunakan.

5. Kendalikan laju pembebanan

Operator harus menjalankan pembebanan sesuai persyaratan standar.

6. Catat kondisi benda uji

Beban maksimum, kuat tekan, dimensi, umur, dan pola kehancuran menjadi bagian penting dari dokumentasi hasil pengujian.

Kesimpulan

SNI 1974:2023 adalah acuan penting untuk pengujian kekuatan tekan spesimen beton silinder di Indonesia dan merupakan adopsi identik ASTM C39/C39M-20. Sementara itu, SNI 1974:2011 masih tercatat berstatus berlaku dalam katalog BSN.

Perbedaan edisi standar harus diperhatikan ketika laboratorium, kontraktor, konsultan, atau pemilik proyek menetapkan metode pengujian. Jangan mencampurkan ketentuan dari edisi standar yang berbeda tanpa memastikan kesesuaiannya.

Pengujian kuat tekan juga tidak cukup dilakukan dengan mesin tekan berkapasitas besar. Kesesuaian spesimen, persiapan permukaan, laju pembebanan, kondisi mesin, kalibrasi, prosedur pengujian, dan pencatatan hasil harus berjalan dalam satu sistem yang mengikuti standar.

Bagi laboratorium yang membutuhkan mesin uji kuat tekan beton, compression testing machine, atau peralatan pengujian beton, Indra Jaya Tektona siap membantu kebutuhan pengadaan alat laboratorium teknik sipil sesuai kapasitas dan kebutuhan pengujian Anda.

You cannot copy content of this page

Hubungi Kami